Pada tanggal 2-6 Februari 2026, kami bertiga, Dekan (Dr. Masykur, M.Hum), Wakil Dekan III (Dr. Endang Saeful Anwar, Lc., M.A), dan Kepala Prodi Ilmu Hadis (Dr. Andi Rosa, M.A), Fakultas Ushuluddin dan Adab, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, ingin menyampaikan bahwa kami akan menjalin kerja sama dengan Hainan College of Foreign Studies dan Hainan Moslem Community, dalam upaya meningkatkan kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi antara Indonesia dan China.
Dalam perspektif kurikulum berbasis cinta, kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, putri seorang pedagang China, adalah ibunda Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, merupakan contoh nyata bagaimana Islam dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan kerja sama antara Banten dan China. Tulisan ini akan membahas bagaimana kisah cinta mereka menunjukkan pentingnya kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi antara dua negara yang berbeda, serta bagaimana Islam dapat menjadi faktor pemersatu dalam meningkatkan hubungan tersebut.
Tradisi Islam di China
China memiliki sejarah Islam yang panjang dan kaya, dengan komunitas Muslim yang signifikan di negara tersebut. Tradisi Islam di China dapat dilihat dalam arsitektur masjid, seni kaligrafi, dan musik Islam. Salah satu contoh tradisi Islam di China adalah perayaan Idul Fitri, yang dirayakan oleh komunitas Muslim di China dengan cara yang unik dan khas.
Tradisi China di Banten
Banten juga memiliki tradisi China yang kaya, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Tradisi China di Banten dapat dilihat dalam makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, yang memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, tradisi China di Banten juga dapat dilihat dalam perayaan Imlek, yang dirayakan oleh komunitas Tionghoa di Banten dengan cara yang meriah dan khas.
Kaitan Tradisi Islam dan China
Kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, ibunda Sultan Maulana Hasanuddin, menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama budaya dan ekonomi. Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten membawa pengaruh budaya dan tradisi China ke Banten, sementara Sultan Maulana Hasanuddin membawa pengaruh Islam ke dalam kehidupan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dan komunitas China di Banten. Kisah ini menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan kerja sama antara Banten dan China, tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang pendidikan, budaya, dan kemanusiaan.
Pengaruh Islam dalam Budaya China dan Sebaliknya
Islam memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya China, terutama dalam bidang seni dan arsitektur. Masjid-masjid di China, seperti Masjid Agung Xi’an, merupakan contoh dari pengaruh Islam dalam arsitektur China. Selain itu, seni kaligrafi Islam juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni China.
Budaya China juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya Islam, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, seni China, seperti kaligrafi dan lukisan, juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni Islam.
Dengan demikian, kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi. Kisah ini dapat menjadi contoh bagi kerja sama antar negara dan budaya lainnya dalam meningkatkan perdamaian dan kemakmuran dunia.
Dalam perspektif kurikulum berbasis cinta, kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, putri seorang pedagang China, adalah ibunda Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, merupakan contoh nyata bagaimana Islam dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan kerja sama antara Banten dan China. Tulisan ini akan membahas bagaimana kisah cinta mereka menunjukkan pentingnya kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi antara dua negara yang berbeda, serta bagaimana Islam dapat menjadi faktor pemersatu dalam meningkatkan hubungan tersebut.
Tradisi Islam di China
China memiliki sejarah Islam yang panjang dan kaya, dengan komunitas Muslim yang signifikan di negara tersebut. Tradisi Islam di China dapat dilihat dalam arsitektur masjid, seni kaligrafi, dan musik Islam. Salah satu contoh tradisi Islam di China adalah perayaan Idul Fitri, yang dirayakan oleh komunitas Muslim di China dengan cara yang unik dan khas.
Tradisi China di Banten
Banten juga memiliki tradisi China yang kaya, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Tradisi China di Banten dapat dilihat dalam makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, yang memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, tradisi China di Banten juga dapat dilihat dalam perayaan Imlek, yang dirayakan oleh komunitas Tionghoa di Banten dengan cara yang meriah dan khas.
Kaitan Tradisi Islam dan China
Kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, ibunda Sultan Maulana Hasanuddin, menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama budaya dan ekonomi. Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten membawa pengaruh budaya dan tradisi China ke Banten, sementara Sultan Maulana Hasanuddin membawa pengaruh Islam ke dalam kehidupan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dan komunitas China di Banten. Kisah ini menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan kerja sama antara Banten dan China, tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang pendidikan, budaya, dan kemanusiaan.
Pengaruh Islam dalam Budaya China dan Sebaliknya
Islam memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya China, terutama dalam bidang seni dan arsitektur. Masjid-masjid di China, seperti Masjid Agung Xi’an, merupakan contoh dari pengaruh Islam dalam arsitektur China. Selain itu, seni kaligrafi Islam juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni China.
Budaya China juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya Islam, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, seni China, seperti kaligrafi dan lukisan, juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni Islam.
Dengan demikian, kisah cinta Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi. Kisah ini dapat menjadi contoh bagi kerja sama antar negara dan budaya lainnya dalam meningkatkan perdamaian dan kemakmuran dunia.
Tradisi Islam di China
China memiliki sejarah Islam yang panjang dan kaya, dengan komunitas Muslim yang signifikan di negara tersebut. Tradisi Islam di China dapat dilihat dalam arsitektur masjid, seni kaligrafi, dan musik Islam. Salah satu contoh tradisi Islam di China adalah perayaan Idul Fitri, yang dirayakan oleh komunitas Muslim di China dengan cara yang unik dan khas.
Tradisi China di Banten
Banten juga memiliki tradisi China yang kaya, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Tradisi China di Banten dapat dilihat dalam makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, yang memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, tradisi China di Banten juga dapat dilihat dalam perayaan Imlek, yang dirayakan oleh komunitas Tionghoa di Banten dengan cara yang meriah dan khas.
Kaitan Tradisi Islam dan China
Kisah cinta Ratu Kawung dan Sultan Maulana Hasanuddin menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama budaya dan ekonomi. Ratu Kawung membawa pengaruh budaya dan tradisi China ke Banten, sementara Sultan Maulana Hasanuddin membawa pengaruh Islam ke dalam kehidupan Ratu Kawung dan komunitas China di Banten. Kisah ini menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan kerja sama antara Banten dan China, tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang pendidikan, budaya, dan kemanusiaan.
Pengaruh Islam dalam Budaya China dan Sebaliknya
Islam memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya China, terutama dalam bidang seni dan arsitektur. Masjid-masjid di China, seperti Masjid Agung Xi’an, merupakan contoh dari pengaruh Islam dalam arsitektur China. Selain itu, seni kaligrafi Islam juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni China.
Budaya China juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya Islam, terutama dalam bidang kuliner dan seni. Makanan khas Banten, seperti siomay dan bakpia, memiliki pengaruh kuat dari kuliner China. Selain itu, seni China, seperti kaligrafi dan lukisan, juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam seni Islam.
Dengan demikian, kisah cinta Ratu Kawung dan Sultan Maulana Hasanuddin menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan China dapat bersatu dalam meningkatkan kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi. Kisah ini dapat menjadi contoh bagi kerja sama antar negara dan budaya lainnya dalam meningkatkan perdamaian dan kemakmuran dunia.

