{"id":10330,"date":"2026-05-07T12:07:36","date_gmt":"2026-05-07T05:07:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/?p=10330"},"modified":"2026-05-07T12:07:36","modified_gmt":"2026-05-07T05:07:36","slug":"%d8%a3%d9%87%d9%85%d9%8a%d8%a9-%d9%81%d9%84%d8%b3%d9%81%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%af-%d9%84%d9%83%d8%a7%d8%b1%d9%84-%d8%ac%d8%a7%d8%b3%d8%a8%d8%b1%d8%b3-%d8%b9%d9%84%d9%89-%d9%88%d8%ac","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/%d8%a3%d9%87%d9%85%d9%8a%d8%a9-%d9%81%d9%84%d8%b3%d9%81%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%af-%d9%84%d9%83%d8%a7%d8%b1%d9%84-%d8%ac%d8%a7%d8%b3%d8%a8%d8%b1%d8%b3-%d8%b9%d9%84%d9%89-%d9%88%d8%ac\/","title":{"rendered":"\u0623\u0647\u0645\u064a\u0629 \u0641\u0644\u0633\u0641\u0629 \u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f \u0644\u0643\u0627\u0631\u0644 \u062c\u0627\u0633\u0628\u0631\u0633 \u0639\u0644\u0649 \u0641\u0644\u0633\u0641\u0629 \u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f \u0644\u062c\u0627\u0646 \u0628\u0648\u0644 \u0633\u0627\u0631\u062a\u0631 \u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f\u064a\u0629 \u0644\u0637\u0644\u0627\u0628 \u062c\u0627\u0645\u0639\u0629 \u0641\u0648\u062f\u0627 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0639\u0635\u0631 \u0627\u0644\u0631\u0642\u0645\u064a"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Filsafat eksistensi merupakan salah satu corak pemikiran modern yang memberi perhatian besar pada manusia sebagai subjek yang hidup, memilih, gelisah, bertanggung jawab, dan mencari makna. Dalam tradisi ini, dua tokoh penting yang sering dibandingkan adalah Jean-Paul Sartre dan Karl Jaspers. Keduanya sama-sama berbicara tentang manusia, kebebasan, pilihan, kecemasan, dan keaslian diri. Akan tetapi, keduanya memiliki arah pemikiran yang berbeda. Sartre lebih dikenal sebagai tokoh eksistensialisme ateistik, sedangkan Jaspers dikenal melalui filsafat eksistensi yang lebih terbuka pada dimensi transendensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagi mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA), perbandingan ini penting karena lingkungan akademik FUDA tidak hanya mengkaji manusia sebagai makhluk rasional, sosial, dan historis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki hubungan dengan Tuhan. Mahasiswa FUDA berada dalam ruang akademik yang mengintegrasikan kajian filsafat, agama, sejarah, bahasa, budaya, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, filsafat yang dipilih sebagai dasar refleksi kemanusiaan sebaiknya tidak hanya menekankan kebebasan manusia, tetapi juga memperhatikan dimensi tanggung jawab spiritual, moral, komunikasi, dan transendensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sartre terkenal dengan gagasan \u201cexistence precedes essence\u201d, yaitu manusia terlebih dahulu ada, kemudian membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan. Dalam kerangka Sartre, tidak ada hakikat manusia yang sudah ditentukan sejak awal oleh Tuhan atau kodrat metafisis; manusia menciptakan maknanya sendiri melalui kebebasan. Dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa Sartre memang menempatkan eksistensi manusia sebelum esensi, sehingga manusia tidak memiliki esensi tetap yang mendahului keberadaannya. Sartre sendiri dalam Existentialism is a Humanism menyatakan bahwa apabila Tuhan tidak ada, maka manusia adalah makhluk yang eksistensinya mendahului esensinya, dan manusia harus mendefinisikan dirinya sendiri setelah ia hadir di dunia. Berbeda dengan Sartre, Karl Jaspers memandang manusia sebagai Existenz, yaitu keberadaan manusia yang tidak dapat direduksi hanya sebagai objek empiris, angka, data, atau peran sosial. Manusia menjadi sungguh-sungguh eksistensial ketika ia berhadapan dengan situasi batas seperti kematian, penderitaan, perjuangan, rasa bersalah, dan kegagalan. Dalam situasi seperti itu, manusia menyadari keterbatasannya dan mulai terbuka kepada sesuatu yang melampaui dirinya, yaitu transendensi. Bagi Jaspers, situasi batas merupakan momen eksistensial yang mendorong manusia menghadapi batas kesadarannya dan mencari bentuk pengetahuan serta kesadaran yang lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Tulisan ini berargumen bahwa filsafat eksistensi Karl Jaspers lebih relevan daripada eksistensialisme Sartre bagi mahasiswa FUDA, terutama karena Jaspers memberi ruang bagi transendensi, komunikasi eksistensial, kesadaran akan batas manusia, dan tanggung jawab moral-spiritual. Hal ini sejalan dengan visi keilmuan Islam yang memandang manusia bukan hanya sebagai makhluk bebas, tetapi juga sebagai hamba Allah, khalifah, pencari ilmu, dan subjek moral yang bertanggung jawab. Jean-Paul Sartre menempatkan kebebasan manusia sebagai pusat filsafatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut Sartre, manusia tidak memiliki esensi tetap yang ditentukan sebelumnya. Manusia hadir lebih dahulu, lalu menentukan dirinya melalui pilihan-pilihannya. Karena itu, manusia bukanlah benda yang telah selesai, melainkan proyek yang terus membentuk diri. Pemikiran ini memberi penghargaan besar terhadap kebebasan manusia, tetapi juga membawa konsekuensi berat: manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu konsep penting Sartre adalah bad faith atau mauvaise foi, yaitu sikap tidak jujur terhadap kebebasan sendiri. Seseorang berada dalam bad faith ketika ia berpura-pura tidak bebas, menyalahkan keadaan, berlindung di balik status sosial, atau menganggap dirinya semata-mata ditentukan oleh sistem. Bad faith pada Sartre berkaitan dengan penyangkalan manusia terhadap kebebasannya sendiri; manusia mencoba menjadikan dirinya seolah-olah benda tetap, padahal ia adalah kesadaran yang bebas. Pemikiran Sartre memiliki nilai penting bagi mahasiswa. Ia mengajarkan keberanian memilih, keberanian bertanggung jawab, dan keberanian tidak hidup secara palsu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam konteks mahasiswa FUDA, gagasan ini dapat mendorong mahasiswa untuk tidak pasif, tidak hanya mengikuti arus, serta berani mengambil keputusan akademik dan moral secara sadar. Misalnya, mahasiswa tidak boleh menyalahkan keadaan ketika malas membaca, tidak menulis karya ilmiah, atau hanya menyalin gagasan orang lain tanpa tanggung jawab akademik. Namun demikian, problem utama eksistensialisme Sartre terletak pada kecenderungannya yang ateistik dan sangat menekankan otonomi manusia. Jika manusia sepenuhnya menciptakan makna sendiri tanpa sandaran transenden, maka makna hidup sangat bergantung pada subjektivitas manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam konteks pendidikan Islam, pandangan seperti ini perlu dikritisi. Islam mengakui kebebasan dan tanggung jawab manusia, tetapi kebebasan tersebut tidak bersifat mutlak. Kebebasan manusia berada dalam horizon penghambaan kepada Allah, tanggung jawab moral, dan tujuan penciptaan. Untuk itu, Sartre penting untuk memahami kebebasan manusia, tetapi kurang memadai apabila dijadikan dasar utama bagi mahasiswa FUDA yang hidup dalam tradisi akademik keislaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mahasiswa FUDA membutuhkan filsafat manusia yang tidak hanya berbicara tentang kebebasan, tetapi juga tentang keterbatasan, relasi dengan Tuhan, komunikasi etis, dan orientasi transendental. Karl Jaspers tidak memahami manusia hanya sebagai objek ilmu pengetahuan. Bagi Jaspers, manusia memang dapat dikaji secara biologis, psikologis, sosial, dan historis, tetapi manusia tidak pernah habis dijelaskan oleh pendekatan objektif. Ada dimensi terdalam dalam diri manusia yang disebut Existenz. Existenz bukan sekadar keberadaan fisik, melainkan keberadaan otentik yang muncul ketika manusia sadar akan dirinya, batas-batasnya, tanggung jawabnya, dan keterarahannya pada transendensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Konsep penting dalam filsafat Jaspers adalah situasi batas atau Grenzsituationen. Situasi batas adalah pengalaman mendasar yang tidak dapat dihindari manusia, seperti kematian, penderitaan, konflik, kegagalan, dan rasa bersalah. Pengalaman-pengalaman ini mengguncang manusia dari kehidupan yang dangkal menuju kesadaran yang lebih mendalam. Jaspers tidak memandang penderitaan semata-mata sebagai kehancuran, tetapi sebagai pintu menuju pemahaman eksistensial. Situasi batas dalam pemikiran Jaspers merupakan momen ketika manusia terdorong menghadapi batas kesadaran dan mencari bentuk refleksi yang lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain situasi batas, Jaspers juga menekankan komunikasi eksistensial. Manusia tidak menjadi dirinya secara otentik dalam kesendirian tertutup, melainkan melalui dialog, keterbukaan, dan perjumpaan dengan sesama. Komunikasi eksistensial bukan sekadar pertukaran informasi, tetapi perjumpaan antarmanusia yang saling membuka diri dalam kejujuran, tanggung jawab, dan pencarian kebenaran. Dalam konteks mahasiswa, gagasan ini sangat penting karena pendidikan tinggi tidak hanya membutuhkan penguasaan teori, tetapi juga budaya dialog, adab berdiskusi, keterbukaan intelektual, dan kesediaan menghargai perbedaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Unsur paling penting dalam filsafat Jaspers bagi mahasiswa FUDA adalah keterbukaannya pada transendensi. Jaspers memang tidak menyamakan filsafatnya dengan teologi agama tertentu, tetapi ia memberi ruang bagi pengalaman manusia yang menunjuk kepada Yang Melampaui. Manusia, menurut Jaspers, tidak dapat memahami dirinya secara utuh jika hanya berhenti pada dunia empiris. Ia perlu menyadari bahwa keberadaannya selalu berhadapan dengan misteri, keterbatasan, dan panggilan yang melampaui dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dengan demikian, filsafat Jaspers lebih mudah didialogkan dengan perspektif Islam. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki tujuan penciptaan. Dalam al-Qur\u2019an surat az-Zariyat ayat 56, ditegaskan:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u062e\u064e\u0644\u064e\u0642\u0652\u062a\u064f \u0627\u0644\u0652\u062c\u0650\u0646\u0651\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0627\u0650\u0646\u0652\u0633\u064e \u0627\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0644\u0650\u064a\u064e\u0639\u0652\u0628\u064f\u062f\u064f\u0648\u0652\u0646\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Artinya: \u201cTidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.\u201d Ayat ini memberi dasar transendental bagi keberadaan manusia. Manusia bukan hanya makhluk bebas sebagaimana ditekankan Sartre, tetapi juga makhluk yang diarahkan kepada pengabdian kepada Allah. Dalam kerangka ini, kebebasan manusia tidak hilang, tetapi diberi arah. Manusia bebas memilih, tetapi pilihan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Manusia dapat membentuk dirinya, tetapi pembentukan diri itu tidak boleh lepas dari tujuan ibadah, akhlak, ilmu, dan kemaslahatan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Filsafat eksistensi merupakan salah satu corak pemikiran modern yang memberi perhatian besar pada manusia sebagai subjek yang hidup, memilih, gelisah, [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":10331,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"cybocfi_hide_featured_image":"","footnotes":""},"categories":[200],"tags":[],"class_list":["post-10330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-dekan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.9 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/\u0623\u0647\u0645\u064a\u0629-\u0641\u0644\u0633\u0641\u0629-\u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f-\u0644\u0643\u0627\u0631\u0644-\u062c\u0627\u0633\u0628\u0631\u0633-\u0639\u0644\u0649-\u0648\u062c\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"ar_AR\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Filsafat eksistensi merupakan salah satu corak pemikiran modern yang memberi perhatian besar pada manusia sebagai subjek yang hidup, memilih, gelisah, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/\u0623\u0647\u0645\u064a\u0629-\u0641\u0644\u0633\u0641\u0629-\u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f-\u0644\u0643\u0627\u0631\u0644-\u062c\u0627\u0633\u0628\u0631\u0633-\u0639\u0644\u0649-\u0648\u062c\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Fakultas Ushuluddin dan Adab\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-07T05:07:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd-1024x683.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Faisal\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"\u0643\u064f\u062a\u0628 \u0628\u0648\u0627\u0633\u0637\u0629\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Faisal\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"\u0648\u0642\u062a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0621\u0629 \u0627\u0644\u0645\u064f\u0642\u062f\u0651\u0631\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 \u062f\u0642\u0627\u0626\u0642\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/\"},\"author\":{\"name\":\"Faisal\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/e26e7aab3757be40b925f0df48921468\"},\"headline\":\"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital\",\"datePublished\":\"2026-05-07T05:07:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/\"},\"wordCount\":1094,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png\",\"articleSection\":[\"Kolom Dekan\"],\"inLanguage\":\"ar\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/\",\"name\":\"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png\",\"datePublished\":\"2026-05-07T05:07:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"ar\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"ar\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/\",\"name\":\"Fakultas Ushuluddin dan Adab\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization\"},\"alternateName\":\"Fuda Uin Banten\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"ar\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Fakultas Ushuluddin dan Adab\",\"alternateName\":\"Fuda Uin Banten\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"ar\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo_UIN_tanpa_tulisan.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo_UIN_tanpa_tulisan.png\",\"width\":593,\"height\":421,\"caption\":\"Fakultas Ushuluddin dan Adab\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/e26e7aab3757be40b925f0df48921468\",\"name\":\"Faisal\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"ar\",\"@id\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/litespeed\/avatar\/274e8b58103b0d6fbec7961fdea9467e.jpg?ver=1777998348\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/litespeed\/avatar\/274e8b58103b0d6fbec7961fdea9467e.jpg?ver=1777998348\",\"caption\":\"Faisal\"},\"url\":\"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/author\/faisal\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/\u0623\u0647\u0645\u064a\u0629-\u0641\u0644\u0633\u0641\u0629-\u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f-\u0644\u0643\u0627\u0631\u0644-\u062c\u0627\u0633\u0628\u0631\u0633-\u0639\u0644\u0649-\u0648\u062c\/","og_locale":"ar_AR","og_type":"article","og_title":"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab","og_description":"Filsafat eksistensi merupakan salah satu corak pemikiran modern yang memberi perhatian besar pada manusia sebagai subjek yang hidup, memilih, gelisah, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/\u0623\u0647\u0645\u064a\u0629-\u0641\u0644\u0633\u0641\u0629-\u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u062f-\u0644\u0643\u0627\u0631\u0644-\u062c\u0627\u0633\u0628\u0631\u0633-\u0639\u0644\u0649-\u0648\u062c\/","og_site_name":"Fakultas Ushuluddin dan Adab","article_published_time":"2026-05-07T05:07:36+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd-1024x683.png","type":"image\/png"}],"author":"Faisal","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"\u0643\u064f\u062a\u0628 \u0628\u0648\u0627\u0633\u0637\u0629":"Faisal","\u0648\u0642\u062a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0621\u0629 \u0627\u0644\u0645\u064f\u0642\u062f\u0651\u0631":"5 \u062f\u0642\u0627\u0626\u0642"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/"},"author":{"name":"Faisal","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/e26e7aab3757be40b925f0df48921468"},"headline":"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital","datePublished":"2026-05-07T05:07:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/"},"wordCount":1094,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png","articleSection":["Kolom Dekan"],"inLanguage":"ar","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/","name":"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital | Fakultas Ushuluddin dan Adab","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png","datePublished":"2026-05-07T05:07:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#breadcrumb"},"inLanguage":"ar","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"ar","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#primaryimage","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png","contentUrl":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/53858b3f-de60-49bd-a3e5-9e267c0a10fd.png","width":1536,"height":1024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/relevansi-filsafat-eksistensi-karl-jaspers-daripada-eksistensialisme-jean-paul-sartre-bagi-mahasiswa-fuda-di-era-digital\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Relevansi Filsafat Eksistensi Karl Jaspers daripada Eksistensialisme Jean-Paul Sartre bagi Mahasiswa FUDA di Era Digital"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/","name":"\u0643\u0644\u064a\u0629 \u0623\u0635\u0648\u0644 \u0627\u0644\u062f\u064a\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0623\u062f\u0628","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization"},"alternateName":"Fuda Uin Banten","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"ar"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#organization","name":"\u0643\u0644\u064a\u0629 \u0623\u0635\u0648\u0644 \u0627\u0644\u062f\u064a\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0623\u062f\u0628","alternateName":"Fuda Uin Banten","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"ar","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo_UIN_tanpa_tulisan.png","contentUrl":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo_UIN_tanpa_tulisan.png","width":593,"height":421,"caption":"Fakultas Ushuluddin dan Adab"},"image":{"@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/e26e7aab3757be40b925f0df48921468","name":"\u0641\u064a\u0635\u0644","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"ar","@id":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/litespeed\/avatar\/274e8b58103b0d6fbec7961fdea9467e.jpg?ver=1777998348","contentUrl":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/wp-content\/litespeed\/avatar\/274e8b58103b0d6fbec7961fdea9467e.jpg?ver=1777998348","caption":"Faisal"},"url":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/author\/faisal\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10330"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10333,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10330\/revisions\/10333"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fuda.uinbanten.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10330"}],"curies":[{"name":"\u062f\u0628\u0644\u064a\u0648 \u0628\u064a","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}