“Alaisa Hubbī Yamla’u Qalbak” Dan Getar-getir Sidang Skripsi di BSA

Judul berbahasa Arab di atas adalah pertanyaan yang disampaikan seorang suami kepada isterinya. Jika diterjemahkan, akan menjadi: “Tidakkah cintaku telah memenuhi hatimu?” Istri menjawab, “na’am”. Mendengar jawaban istri, sang suami langsung tersenyum. Dalam hati ia berkata, ” Andaikan istriku memahami bahasa Arab, pasti ia tidak akan berkata begitu.”

Ya, secara struktural bahasa, pertanyaan suami di atas berbentuk negatif, menggunakan kata “laisa”. Question tag dalam istilah bahasa Inggrisnya. Jika ingin mengafirmasi pertanyaan, semestinya istri menjadwab ” bala”, yang berarti “ya, benar.” Ini banyak contohnya dalam al-Qur’an. Adapun jika menjawab dengan “na’am”, maka na’am di sini akan berarti tidak. Di sini istri seolah sedang menyangkal bahwa cinta sang suami mengisi ruang hatinya. Jangan-jangan si istri selingkuh?

Mendengar pertanyaan ini, seorang peserta sidang yang kebetulan sudah menikah tertawa terkekeh-kekeh bersama dosen penguji lainnya. Dengan kisah ini, ketua Sidang Skripsi tanggal 24 Juli 2023, Dr. H. Aang Saeful Milah, M.A. yang menjabat Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan yang menguasai pemikiran Nahu Imam Sibawaih itu hendak menanamkan pesan kepada para peserta sidang untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Arab mereka.

Selalu ada keseruan dalam momen sidang skripsi, mulai dari ekspresi mahasiswa yang grogi hingga yang over confident. Rasa takut yang berlebih biasanya tampak dalam ketidakmampuan menjawab pertanyaan penguji, meskipun materi yang ditanyakan sudah dibaca berulang kali sebelumnya oleh mahasiswa. Tetapi di hadapan penguji, terkadang lidah menjadi kelu, tidak bisa berkata apa-apa, apalagi adu argumen. Layaknya seorang murid silat yang mendadak lupa jurus di hadapan guru. Yang lainnya, ada yang sangat percaya diri membaca teks bahasa Arab dengan begitu cepat, tetapi terdengar seperti orang kumur-kumur tanpa jelas i’rab tiap kata yang dibacanya. Untungnya, sidang skripsi di BSA bukan menjadi ajang penghakiman mahasiswa, melainkan ajang untuk saling bertukar pikiran antara mahasiswa dan dosen terkait topik skripsi yang diujikan. Sesuai namanya, munaqasyah, dalam bahasa Arab berarti ‘saling beriskusi’. Mahasiswa berbagi tentang temuan penelitiannya untuk didiskusikan bersama dosen penguji. Sehingga, sidang skripsi di BSA tidak terkesan terlalu menyeramkan, tetapi tetap khidmat dan dipandang sakral di mata mahasiswa.

Momen penutupan sidang adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh peserta sidang. Pada sesi ini, selain mengunggu pembacaan hasil ujian, mahasiswa juga mendapatkan wejangan, taujihat, dan taushiyah seusai pembacaan hasil. Ibarat dunia persilatan, setelah murid-murid tuntas menguasai semua jurus, mereka dibekali dengan pandangan masa depan tentang dunia yang akan mereka hadapi. Itulah dunia nyata yang harus dihadapi dengan segala persiapan dan kesiapan.

Dalam taushiyahnya pada sidang tanggal 24 Juli 2023, Dr. (cand.) Dadang Ismatullah, M.A. bercerita pernah diminta memandikan jenazah di lingkungan sekitaran kos saat ia masih kuliah dahulu. Meski sempat menolak karena bukan keahliannya, tetapi masyarakat hanya tau bahwa ia sedang studi di kampus Islam.. Karenanya, “Kalian harus siap ketika terjun di masyarakat. Dan kesiapan itu akan muncul bersamaan dengan keterbukaan untuk terus belajar. Dan yang terpenting di atas keilmuan, Anda harus mengedepankan karakter yang baik. Dengan begitu, Anda turut menjaga nama baik almamater”, tutur dosen pakar Semiotika itu.

Pesan di atas mengingatkan kita pada pemikiran tokoh awal dalam pendidikan Islam di jaman di abad pertengahan, al-Qabisi (w. 403 H.), yang menekankan pendidikan karakter sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Atau, bisa juga disambungkan dengan pemikiran Thomas Lickona dalam konteks pendidikan modern yang menjadikan pendidikan karakter sebagai poros utama dalam serangkaian proses pendidikan.

Empat hari setelah itu, tanggal 28 Juli 2023, taushiyah disampaikan oleh Dr. (Cand.) Hadian Rizani, M.Hum. dalam penutupan majlis sidang yang dipimpinnya. Dalam pengamatannya, ada empat tipe mahasiswa beserta prospeknya setelah lulus. Ada mahasiswa yang hebat di masa kuliah, dan berjalan linier setelah lulus menjadi orang hebat; Ada yang hebat saat masa kuliah, tetapi biasa-biasa saja saat setelah lulus; Ada yang hebat saat kuliah, tetapi biasa-biasa saja setelah lulus; dan ada yang selama di kampus biasa-biasa saja, tidak menonjol, tetapi setelah lulus menjadi orang yang hebat. “Dan saya lebih banyak menemukan tipe yang terakhir ini,” ungkapnya merujuk pada para senior, kawan-kawan sejawat, hingga para alumni yang pernah ikut kuliah di Mata Kuliah yang ia ampu. “Saya melihat sebagian Anda ada di kelompok pertama. Kalau bukan, maka paling tidak, dan saya yakin Anda adalah yang termasuk kelompok yang hebat setelah lulus nanti,” tutup pakar Semantik itu dengan penuh motivasi. Klasifikasi ini sangat dekat dengan apa yang dibuat oleh tokoh awal kritik sastra Arab Ibnu Qutaibah (w. 376 H.) tentang puisi, yang kemudian menjadi cikal bakal pembahasan lebih lanjut dan lebih spesifik berkaitan dengan diskursus lafaz dan makna.

Turut sumbang taushiyah dalam sidang penutup untuk periode semester Genap 2022-2023 itu Dr. Ahmad Habibi Syahid, M.M.Pd., ahli Kritik Wacana yang sering dijuluki sebagai “Bapak Jurnal” di UIN SMH Banten. Ia menyampaikan kalimat yang singkat nan padat, “Ini bukanlah akhir, melainkan permulaan [dalam menuntut ilmu].” Ungkapan ini dikutipnya dari salah seorang dosen senior BSA, tim formatur yang membidani lahirnya prodi ini, yaitu adagium dalam bahasa Arab Dr. (Cand.) Moh. Rohman, M.Ag. yang mengatakan: “Hādzihī laisat n-nihāyah, walākin l-bidāyah.” Ya, keberhasilan menyelesaikan studi di BSA bukan akhir dari proses belajar, melainkan titik tolak untuk melangkah lebih jauh dalam mengarungi bahtera ilmu, baik di jenjang formal maupun non formal.
[LTA]