International Webinar: “The Faith and the Solution of Modern Human’s Problem on Badiuzzaman Said Nursi’s Perspective”

Serang, Senin, 23 Nopember 2020, Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) UIN SMH Banten yang bekerjasam dengan, Istanbul Foundation for Science and Culture-Turkey dan Nur Semesta Foundation Jakarta menyenggarakan webinar internasional dengan tema: “The Faith and the Solution of Modern Human’s Problem on Badiuzzaman Said Nursi’s Perspective.” Dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN SMH Banten, Prof. Dr. Udi Mufradi Mawardi, Lc., M.A., seminar yang diselenggarakan secara virtual itu diikuti lebih dari tiga ratus peserta yang antusias mengikuti acara hingga akhir. Dalam sambutannya pembukaannya, Prof. Udi menyampaikan pentingnya mengangkat tema tentang pemikiran Said Nursi bagi kehidupan manusia di zaman modern yang serba canggih ini. Pandangan-pandangan Said Nursi dapat diibaratkan sebagai air yang mampu menghilangkan dahaga spiritual manusia.

Menengok jaman di mana pemikir yang pandangannya sangat filosofis ini hidup, hal itu dapat menjelaskan bagaimana ia mampu melahirkan pandangan-pandangan reflektif dan dapat membaca masa depan. Ia hidup pada jaman di mana otoritas Turki beralih orientasi, mengubah wajah Turki menjadi negara sekuler. Said Nursi pun sadar, berseberangan dengan pemerintah membuatnya hidup di pengasingan. Tetapi justru pengasingan memberikannya cukup waktu untuk belajar hingga menguasai berbagai bidang ilmu. Menariknya, semakin dibatasi ruang geraknya, pandangan-pandangannya kian mendapatkan penerimaan masyarakat luas melalui murid-murid yang menyebarkan buah pikirnya.  

“Kita berasal dari mana, melakukan apa saat ini, dan akan kemana nantinya setelah kematian?” Ini adalah pertanyaan penting yang diajukan Nursi yang mendasari proyek pemikirannya, sebagaimana disampaikan oleh Direktur Eksekutif Istambul Faoundation for Science and Culture, dalam sambutannya. Dr. Said Yuce melanjutkan, “Mengingkari wujud Allah SWT, menurut Nursi, berarti pengingkaran atas semua maujud. Sebab semua yang ada berasal dari-Nya. Dan iman kepada Allah, dengan iman yang hakiki, merupakan sesuatu yang mutlak untuk terwujudnya kemaslahatan umum bagi kehidupan.” Menjabarkan padangan Nursi, Yuce mengibaratkan bahwa orang yang beriman dengan benar itu bagaikan diawasi oleh kamera pengintai yang menemaninya kemana saja ia pergi. Jika seseorang percaya bahwa ia sedang diawasi kamera, ia tentu tidak akan melakukan maksiat, sekecil apapun juga.

Sesi selanjutnya webinar yang di moderatori oleh Dr. Lalu Turjiman Ahmad, MA dengan pembicara pertama Prof. Dr. Ahmed Yildiz, dari komite Nasional Turki untuk Hak Asasi Manusia, yang menyampaikan presentasinya dalam Bahasa Inggris dengan tema: “A Faith-Based Transposition of Modernity: Devine Unity for Thought, Moderation for Life” memaparkan relevansi pemikiran Nursi bagi kehidupan modern, khususnya di Eropa yang sebagian besar tidak menganut suatu agama. Kekosongan spiritual di kalangan agnostik ini menjadi problem tersendiri, yang turut memberi andil bagi tak terhindarkannya tindak kriminalitas yang kian sulit ditangani di negara-negara Eropa. Pada saat yang sama,Fenomena kekosongan spiritual ini juga dapat menjelaskan mengapa orang Eropa semakin hari semakin banyak yang beramai-ramai memeluk agama, terutama Islam.

Dalam pandangan Said Nursi, demikian Yildiz menjelaskan, keimanan kepada Allah akan berdampak pada keadilan (“The believe in Allah ends up with justice”). Sebab iman, sebagaimana dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis Nabi, sangat menekankan moratilitas. Maka moral yang baik atau akhlak karimah, baru akan muncul jika didasari oleh iman yang benar dan dikombinasikan dengan Islam. Karenanya dalam konteks komunal, ia menekankan, “we can not leave Rububiyat in any authority.

Pembicara kedua, Guru Besar universitas Suleyman Prof. Dr. Ishak Ozgel menjelaskan pemikiran Said Nursi secara lebih komprehensif dan detil dalam belasan slide PPT. Hanya saja, presentasinya disampaikan dalam Bahasa Turky, yang kemudian diterjemahkan dengan apik oleh Mr. Hasbi Sen, MA, seorang Turky yang fasih dan lancar berbahasa Indonesia. Pokok-pokok pandangan Said Nursi, menurut Prof Ozgel dapat dilihat dari bagaimana ia menjelaskan tentang hubungan antar tiga hal: alam, kehidupan (manusia), dan al-Qur’an. Pandangan Nursi tentang tiga tema ini disarikan dari berbagai buku karya Nursi, tidak terkecuali Risalat el-Nur yang menjadi karyanya yang sangat fenomenal dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari enam puluh Bahasa di dunia.

Berikutnya, Dr. Muhbib Abdul Wahhab, Direktur Yayasan Nur Semesta dan dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan presentasi dalam Bahasa Arab dengan judul: Al-Nuhudh bi al-Ummah wa Tajdid al-Hayah bi al-Iman inda al_Ustadz Badi’ al-Zaman Sa’id Nursi. Menurutnya, dari Said Nursi lah pertama kali kita mengenal gagasan tentang integrasi-interkoneksi keilmuan. Cendikiawan yang dikenal luas di kalangan akademik di Indonesia dengan kontribusinya dalam pengembangan kajian Bahasa Arab itu menyoroti soal gap peradaban yang begitu timpang, antara peradaban Timur (Islam) dan Barat.

Hal ini sesungguhnya telah dirasakan betul oleh Said Nursi. Nursi membongkar persoalan umat Islam yang ditengarai oleh beberapa hal: kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan peradaban, tidak adanya persatuan, dan kuatnya konflik ideologi. Maka solusi yang ditawarkan oleh Nursi, demikian Dr. Muhbib, adalah melakukan pembaharuan meliputi beberapa bidang: bidang tasawuf yang menyimpang, sebagaimana yang marak terjadi pada jamannya, dan pembaharuan dalam berinteraksi dengan Barat yaitu dengan membuka diri. Nursi juga menyerukan sinergitas antar umat Islam. Jika ini dapat diwujudkan, maka tidak sulit mewujudkan apa yang diangan-angankan oleh Said Nursi: nahnu fi taraju’ al-ashri al-hadhari al-Islamy (“kembalinya jaman peradaban Islam yang maju”, pen.).

Di sela-sela akhir acara panitia Dr. Uib Sholahuddin menagatakan bahwa webinar internasional ini dikuti 388 peserta dari berbagai kalangan, dari Dosen, mahasiswa, banker, auditor, peneliti, penyuluh, dan LSM, baik dalam maupun luar negeri. Peserta dari dalam negeri dari berbagai Perguruan Tingg baik negeri maupun swasta, dari mulai Aceh, Jambi, Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, Gontor, Madura, Jember, Makassar. Adapun peserta dari luar negeri dari Universitas AlAzhar, Malaysia, India dan Turkey sendiri

Di akhir acara, Rektor UIN SMH Banten Prof. Dr. Fauzul Iman, yang menggagas acara ini dan juga bertindak sebagai keynote speaker, menaruh harapan besar bahwa pemikiran-pemikiran para tokoh besar Muslim dapat terus digali, dan kegiatan ini terus diselenggarakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, khususnya tentang pemikiran Said Nursi.

Gayung bersambut. Harapan ini segera ditanggapi dengan positif, di mana dalam waktu dekat IFSC-Turky akan membuka Said Nursi Corner di Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN SMH Banten, sebagaimana halnya Iran Corner yang juga digagas pendiriannya oleh Prof. Fauzul. Untuk Said Nursi Corner ini, kemungkinan akan dibuka akhir tahun ini. Semoga [Lalu]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top