
HumasUIN – Di tengah derasnya arus informasi media sosial, manusia bukan hanya sedang berebut perhatian, tetapi juga sedang berebut pengaruh atas pikiran manusia lainnya.
Kita hidup dalam zaman ketika popularitas sering dianggap sebagai ukuran kebenaran, banyaknya pengikut dianggap sebagai legitimasi pemikiran, dan sesuatu yang viral seolah-olah layak dipercaya.
Padahal, Ali bin Abi Thalib mengajarkan sebuah hikmah yang sangat relevan: “Janganlah engkau melihat siapa yang mengatakan, tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.”
Pesan ini mengingatkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara, seberapa terkenal seseorang, atau seberapa banyak orang yang membenarkannya. Kebenaran harus diuji melalui akal, ilmu, dan kejernihan hati.
Pertama, jangan mengukur kebenaran dari popularitas.
Media sosial sering membuat kita terjebak dalam pengkultusan figur. Pendapat seseorang dianggap benar karena memiliki banyak pengikut, sementara gagasan orang biasa sering diabaikan.
Ada pepatah Arab: “al-hubb al-mufarrith yastur al-aql” (cinta berlebihan dapat menutupi pikiran). Kita harus belajar memisahkan antara sosok dan substansi, antara popularitas dan kualitas pemikiran. Jangan menyerahkan akal kepada figur, tetapi gunakan akal untuk menilai setiap perkataan.
Kedua, jangan menjadikan kerumunan sebagai ukuran kebenaran.
Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang disukai banyak orang belum tentu memiliki dasar pemikiran yang kuat. Mayoritas pun bisa keliru ketika berhenti berpikir kritis. Sebab, kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mempercayainya, melainkan oleh kuatnya alasan yang menopangnya.
Ketiga, kendalikan emosi sebelum orang lain mengendalikan pikiranmu.
Narasi di media sosial sering memainkan kemarahan, kebencian, ketakutan, dan prasangka. Ketika emosi menguasai pikiran, manusia lebih mudah bereaksi daripada memahami. Gunakan akal untuk menimbang, bukan sekadar mengikuti perasaan. Membela kebenaran harus tetap disertai kejernihan berpikir dan adab.
Keempat, ilmu harus melahirkan kerendahan hati.
Jangan merasa paling tahu hanya karena membaca beberapa unggahan atau menonton sejumlah video. Orang berilmu tidak takut dikritik, tidak malu mengakui kesalahan, dan tidak selalu merasa harus memenangkan perdebatan. Semakin luas pengetahuan, seharusnya semakin besar kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Kelima, tegakkan keadilan dalam menilai.
Jangan membenarkan kesalahan hanya karena dilakukan oleh kelompok yang kita dukung. Jangan pula menolak kebenaran hanya karena disampaikan oleh orang yang berbeda pandangan. Keadilan menuntut kita menggunakan ukuran yang sama kepada siapa pun.
Pada akhirnya, persoalan terbesar media sosial bukan sekadar banyaknya informasi yang salah, melainkan hilangnya kesediaan manusia untuk berpikir.
Jangan menjadi budak algoritma, tawanan narasi, atau pengikut kerumunan. Jadilah manusia yang berani bertanya, memeriksa fakta, menerima kritik, dan mengakui kebenaran meskipun datang dari pihak yang berbeda.
Media sosial boleh menggiring perhatian kita, tetapi jangan pernah menyerahkan kemudi pikiran kita kepadanya.
Sebab, manusia yang merdeka bukanlah manusia yang selalu merasa paling benar, melainkan manusia yang tidak pernah berhenti mencari kebenaran.
البروفيسور الدكتور ح. محمد إيشوم، ماجستير في الآداب (رئيس جامعة UIN SMH بانتين)
المنشور Merdekakan Pikiran, Jangan Menjadi Budak Opini نُشر لأول مرة على الروحانية، الفكر، الاحتراف.

