
HumasUIN – Cerita kejadian ini saya dengar langsung dari guru kami al-maghfurlah Kyai Ridhwan pengasuh pesantren Al-Amin Mranggen. Saat itu Syekh Nawawi pulang ke Banten karena dicemburui ulama-alama Hijaz yang merasa tersaingi ketokohon ulama Jawi yang satu ini.
Kepulangan Syekh Nawawi ke Banten menyebabkan kajian-kajian yang digelar di Mekkah sepi penyimak. Kondisi ini disesali ulama-ulama Hijaz, sehingga terpikir gagasan untuk meminta Syekh Nawawi kembali ke Tanah Suci.
Namun usulan itu tidak didukung sepenuhnya oleh ulama-ulama Hijaz, khususnya yang sejak awal merasa tersaingi. Supaya alasan mereka yang tidak suka Syekh Nawawi dianggap masuk akal, mereka usul: Bagaiamana kalau Syekh Nawawi diuji dulu sebelum diijinkan kembali ke Makkah.
Ujian itu ditulis dalam sebuah surat dengan pertanyaan: Apa i’rab lafal “La Siyama”? Cerita Kiai Ridhwan kepada kami waktu itu: Kalau Syekh Nawawi dapat menjawab maka diijinkan kembali ke Mekkah. Akan tetapi kalau tidak dapat menjawab maka berarti tidak layak mengajar di Mekkah. Biarkan menetap di Banten! Kata ulama Arab yang cemburu terhadap Syekh Nawawi.
Surat yang dikirim dari Mekkah akhirnya sampai ke tangan Syekh Nawawi di Banten. Beliau kemudian menjawab tertulis pertanyaan apa i’rab La Siyama?
Dituturkan oleh Kyai Ridhwan bahwa jawaban yang ditulis Syekh Nawawi sangat lengkap. Jawabannya di luar dugaan ulama Arab yang menganggap Syekh Nawawi sebagai orang ajam yang biasa hanya memaknai lafal “La Siyama” dengan makna “opo meneh” (Apa lagi).
Satu persatu kata dalam lafal “La Siyama” dijelaskan panjang lebar. Termasuk kegunaannya sebagai “tafdhil” (mengutamakan) antara kata yang disebut sesudah “La Siyama” dengan yang disebut sebelumnya.
Di dalam surat balasannya Syekh Nawawi tuliskan: “La” adalah La allati li nafyi al-jinsi dan seterusnya dengan penjelasan komplit.
“Siya” adalah isim-nya “La” yang dii’rab “nasab” dan seterusnya: komplit! Adapun khabar-nya “La” tidak ditampakkan (maqdur): dengan uraian lengkap.
Sementara “Ma” menurut Syekh Nawawi dapat dianggap “Ma ziyadah” (Berfungsi tambahan tanpa mengandung makna) dan dapat diperankan sebagai “Ma maushul” atau “Ma Nakirah”. Semua dijelaskan lengkap oleh Syekh Nawawi.
Konsekuensinya kalau dianggap ” Ma maushul” atau “Ma nakirah mubhalah” maka berdampak kepada kata sesudah “La Siyama”. Dibaca dengan i’rab apa kata tersebut?
Syekh Nawawi menjelaskan bahwa kata tersebut dapat dibaca rafa’ dengan alasan yang dikemukakan lengkap. Boleh dibaca nasab dengan alasan yang juga ditulis lengkap. Serta dapat dibaca majrur dengan argumentasi yang panjang lebar.
Jawaban tertulis itu kemudian dikirimkan Syekh Nawawi kepada pengirim surat semula di Mekkah. Kemudian apa yang terjadi? Setelah surat Syekh Nawawi sampai dan dibuka serta dibacakan secara terbuka di hadapan ulama Hijaz, maka semua terkagum-kagum dengan isi surat jawaban Syekh Nawawi.
Syekh Nawawi berhasil membuktikan bahwa sekalipun bukan berasal dari bangsa Arab akan tetapi kapasitas kompetensi keilmuannya melebihi rata-rata ulama Hijaz. Atas dasar itulah syekh Nawawi diijinkan mengajar kembali di kota suci Mekkah dan sangat dihormati dengan julukan Sayyid ulama Hijaz.
Demikian sekelumit cerita tentang Syekh Nawawi Banten yang saya dapatkan dari cerita guru kami, al-maghfurlah Kyai Ridhwan Suburan Mranggen.
Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A. (Remtor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
The post Syekh Nawawi al-Bantani Diuji Meng-I’rab Lafal “La Siyama” first appeared on Spirituality, Intellectuality, Professionalism.

