Tanggal 1 Juli 2026 menjadi tonggak penting dalam perjalanan kelembagaan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Pelantikan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora oleh Rektor, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., sekaligus menandai dimulainya babak baru bagi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, yang selanjutnya disingkat FUSPI, sebagai fakultas yang berdiri secara mandiri.
Kelahiran FUSPI tidak semata-mata merupakan perubahan struktur organisasi atau pemisahan administratif. Berdirinya fakultas baru merupakan lahirnya tanggung jawab intelektual, akademik, dan sosial. FUSPI harus menjadi rumah bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman dan pemikiran Islam yang mampu menjaga tradisi, membaca perubahan, serta memberikan arah etik bagi kehidupan masyarakat.
Semangat tersebut dirangkum dalam slogan “Critically, Locally, Globally.” Slogan ini menggambarkan watak keilmuan dan arah pengembangan FUSPI.
بشكل حاسم berarti mengembangkan tradisi berpikir kritis, reflektif, metodologis, dan terbuka.
محلياً berarti menjadikan kekayaan sejarah, budaya, tradisi keagamaan, dan kearifan lokal Banten sebagai basis pengembangan ilmu.
Adapun globally berarti membawa hasil pendidikan, penelitian, dan pengabdian FUSPI ke dalam percakapan akademik nasional dan internasional.
Menjawab Tantangan Lokal, Nasional, dan Global
FUSPI tumbuh di Banten, wilayah yang memiliki akar sejarah Islam yang kuat. Kesultanan Banten, jaringan ulama dan pesantren, tradisi tarekat, manuskrip keagamaan, masyarakat adat, serta kehidupan religius masyarakat merupakan kekayaan intelektual yang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan.
Namun, Banten hari ini bukan hanya Banten historis. Banten juga menghadapi urbanisasi, industrialisasi, migrasi penduduk, transformasi digital, perubahan otoritas keagamaan, dan berkembangnya budaya populer di kalangan generasi muda. Masyarakat hidup dalam arus informasi yang cepat, tetapi tidak selalu disertai kedalaman pengetahuan dan kematangan spiritual.
Dalam konteks lokal tersebut, FUSPI harus mampu mempertemukan teks keagamaan dengan realitas masyarakat. Kearifan lokal tidak boleh berhenti sebagai simbol atau slogan kelembagaan. Ia perlu diteliti, didokumentasikan, dikritisi, dan dikembangkan menjadi sumber pendidikan, penguatan harmoni sosial, pelestarian lingkungan, pembangunan kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada tingkat nasional, perguruan tinggi keagamaan Islam menghadapi tuntutan peningkatan mutu lulusan, akreditasi, relevansi kurikulum, produktivitas penelitian, inovasi kelembagaan, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.
Ilmu-ilmu ushuluddin tidak boleh dipersepsikan sebagai bidang yang hanya membicarakan persoalan masa lalu. Ilmu Al-Qur’an, hadis, akidah, filsafat, tasawuf, dan studi agama harus hadir untuk menjawab persoalan kebangsaan, seperti intoleransi, krisis moral, kerusakan lingkungan, disinformasi keagamaan, polarisasi sosial, dan melemahnya daya kritis masyarakat.
Tantangan global juga semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia mencari informasi, membaca teks, menulis, meneliti, dan membentuk otoritas pengetahuan.
Konflik kemanusiaan, perubahan iklim, ketimpangan global, krisis identitas, dan kompetisi antarbangsa membutuhkan pendekatan yang tidak hanya teknologis, tetapi juga filosofis, etis, spiritual, dan humanis.
Di sinilah FUSPI memiliki posisi strategis. Dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menilai tujuan, dampak, dan tanggung jawab moral dari penggunaan teknologi tersebut.
FUSPI harus melahirkan sarjana yang memiliki kedalaman tradisi, keberanian berpikir kritis, kepekaan sosial, serta kemampuan berkomunikasi dalam ruang global.
Visi sebagai Arah Pengembangan
FUSPI menetapkan visi:
“Menjadi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yang unggul dalam pengembangan keilmuan Islam dan pemikiran Islam melalui penguatan berbasis kearifan lokal Banten yang berdampak global.”
Visi ini menegaskan bahwa keunggulan FUSPI harus dibangun melalui kualitas pendidikan, integritas akademik, produktivitas penelitian, profesionalitas pelayanan, serta kemampuan menghasilkan inovasi.
Keilmuan Islam dan pemikiran Islam tidak hanya diwarisi, tetapi juga dikembangkan melalui dialog dengan filsafat, psikologi, kebudayaan, ilmu sosial, teknologi, ekologi, dan berbagai persoalan kemanusiaan.
Kearifan lokal Banten ditempatkan sebagai basis epistemologis dan sosial. Tradisi ulama, pesantren, kesultanan, masyarakat adat, bahasa lokal, manuskrip, dan pengalaman keberagamaan masyarakat harus menjadi sumber penelitian dan pembelajaran.
Akan tetapi, berpijak pada lokalitas tidak berarti bersikap tertutup. Identitas lokal yang kuat justru menjadi modal untuk membangun dialog yang setara dengan masyarakat akademik dunia.
Visi tersebut dijalankan melalui pendidikan dan pengajaran yang unggul, integratif, transformatif, serta berorientasi pada reputasi nasional dan internasional.
Penelitian diarahkan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan kajian keislaman, kebudayaan, bahasa, sejarah, filsafat, dan humaniora berbasis kearifan lokal Banten.
Pengabdian kepada masyarakat dikembangkan melalui rekognisi, kerja sama, diseminasi keilmuan, publikasi, jejaring akademik, dan inovasi kelembagaan yang berdampak.
Keseluruhan proses tersebut ditopang tata kelola fakultas yang profesional, akuntabel, transparan, partisipatif, adaptif, serta berorientasi pada mutu berkelanjutan dan prinsip good university governance.
Dari Tiga Menuju Lima Program Studi
Saat ini FUSPI menaungi tiga program studi, yaitu:
- Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir;
- Ilmu Hadis; serta
- Aqidah dan Filsafat Islam.
Dalam rencana strategis, ketiga program studi tersebut akan dikembangkan menjadi lima melalui pembukaan:
- Program Studi Agama-Agama; serta
- Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi.
Pengembangan ini bukan sekadar penambahan jumlah program studi. Studi Agama-Agama diperlukan untuk menghasilkan sarjana yang mampu memahami keberagaman, mengelola perbedaan, membangun dialog, dan memperkuat kehidupan sosial yang damai.
Tasawuf dan psikoterapi diperlukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern yang menghadapi kecemasan, keterasingan, kehilangan makna, dan tekanan kehidupan. Tasawuf perlu dikembangkan dalam dialog dengan psikologi, konseling, kesehatan mental, dan pendampingan masyarakat.
Kelima program studi tersebut akan membentuk satu ekosistem keilmuan.
- Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir memberikan landasan pemahaman wahyu;
- Ilmu Hadis memperkuat pemahaman terhadap tradisi kenabian;
- Aqidah dan Filsafat Islam membangun nalar kritis dan reflektif;
- Studi Agama-Agama mengembangkan kompetensi dialogis; sedangkan
- Tasawuf dan Psikoterapi memperkuat kedalaman spiritual dan pemulihan kemanusiaan.
Jejaring Al-Jabbar dan Al-Basith
Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak global akan dikembangkan melalui dua skema jejaring, yaitu Al-Jabbar dan Al-Basith.
Al-Jabbar
Al-Jabbar merupakan jejaring kerja sama nasional yang melibatkan:
- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
- Universitas PTIQ Jakarta;
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung; dan
- UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Jejaring ini diarahkan pada penelitian bersama, pertukaran dosen, محاضر زائر, pembelajaran kolaboratif, publikasi, pengembangan kurikulum, serta pengabdian kepada masyarakat lintas wilayah.
Al-Basith
Al-Basith merupakan jejaring internasional dengan universitas-universitas di:
- Asia Barat;
- Asia Selatan;
- Asia Timur;
- Asia Tenggara;
- Asia Tengah; dan
- Asia Utara.
Melalui jejaring ini, dosen dan mahasiswa FUSPI diharapkan tidak hanya menjadi penerima teori dari luar, tetapi juga mampu memperkenalkan pemikiran Islam Indonesia, tradisi ulama Banten, pengalaman Islam Nusantara, dan kearifan masyarakat lokal kepada dunia.
Kerja sama tersebut harus bergerak dari hubungan seremonial menuju program yang menghasilkan luaran terukur.
Setiap kerja sama perlu melahirkan penelitian, publikasi, mobilitas dosen dan mahasiswa, konferensi, buku, pusat kajian, atau model pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari Strategi Menuju Rencana Operasional
Visi dan strategi besar FUSPI harus diterjemahkan ke dalam rencana operasional.
Pada tahap awal, fakultas akan melakukan:
- konsolidasi organisasi;
- pemetaan sumber daya manusia;
- penguatan sistem penjaminan mutu;
- penyusunan standar operasional;
- pengembangan layanan digital; serta
- peningkatan sarana pembelajaran dan penelitian.
Bidang Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, setiap program studi diarahkan untuk mengembangkan kurikulum berbasis التعليم القائم على النتائج.
Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga kemampuan menafsirkan teks, berpikir kritis, melakukan penelitian, memanfaatkan teknologi secara etis, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Bidang Penelitian
Dalam bidang penelitian, FUSPI akan mengembangkan klaster kajian:
- Al-Qur’an;
- hadis;
- filsafat dan pemikiran Islam;
- agama dan perdamaian;
- tasawuf dan kesehatan spiritual; serta
- Islam dan kearifan lokal Banten.
Luaran penelitian diarahkan pada:
- publikasi bereputasi;
- buku ajar;
- dokumentasi manuskrip;
- basis data keislaman Banten; dan
- rekomendasi kebijakan.
Bidang Pengabdian kepada Masyarakat
Dalam bidang pengabdian, pesantren, sekolah, komunitas keagamaan, masyarakat adat, lembaga pemerintah, dan komunitas digital akan menjadi mitra.
Programnya dapat meliputi:
- literasi keagamaan;
- pencegahan disinformasi;
- moderasi beragama;
- ekoteologi;
- konseling spiritual;
- pendidikan lingkungan; serta
- penguatan kerukunan masyarakat.
Menanam Akar, Membentangkan Sayap
Sebagai fakultas baru, FUSPI tentu menghadapi keterbatasan kelembagaan, sumber daya, sarana, dan pengalaman organisasi.
Namun, usia yang muda juga menghadirkan kesempatan untuk membangun budaya akademik yang terbuka, kolaboratif, adaptif, ramah mahasiswa, berbasis data, dan berorientasi pada dampak.
FUSPI harus menanamkan akar pada tradisi intelektual Islam dan kearifan lokal Banten, sambil membentangkan sayap menuju ruang akademik global.
Dari tradisi, FUSPI membangun kedalaman.
Dari sikap kritis, FUSPI melahirkan pembaruan.
Dari lokalitas, FUSPI menawarkan identitas.
Dari jejaring global, FUSPI menghadirkan dampak.
Inilah arah FUSPI: berpikir kritis, berakar secara lokal, dan berdampak secara global—Critically, Locally, Globally.

