
HumasUIN – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar The 5th Annual International Conference on Islamic Education and Language (AICEL 2026) di Auditorium Lantai 3 Gedung Rektorat UIN SMH Banten, Selasa hingga Rabu (13–14/10/2026).
Mengusung tema “Integrating Artificial Intelligence and Digital Transformation in Regional Islamic Education: A Strategic Pathway Toward the Sustainable Development Goals” , konferensi internasional ini menghadirkan lima narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Dr. Aisling Oboyl ( Queen’s University Belfast, Inggris), Dr. Djati Handoko (Universitas Indonesia), Dr. Saifaldin Idris Onya ( University of Khartoum , Sudan), Prof. Dr. Ahmed. J. Ubaid ( University of Kufa, Irak), serta Ts. Dr. Mohammad Ridhuan bin Mohammad Jamil (Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia).
AICEL ke-5 menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dosen, praktisi pendidikan, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berdiskusi mengenai perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) dan transformasi digital dalam pendidikan Islam, sekaligus merumuskan strategi pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Juhji, M.Pd., menyampaikan bahwa AICEL 2026 mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Konferensi tahun ini mencatat sebanyak 78 makalah ilmiah ( paper ) yang ditulis oleh 232 penulis dari 25 perguruan tinggi di empat negara, yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
“Melalui konferensi ini, kita berharap dapat memperluas wawasan akademik, berbagi hasil penelitian, memperkuat jejaring internasional, serta membangun kolaborasi yang berkelanjutan antarpemangku kepentingan pendidikan Islam. Ini menjadi ruang dialog inovatif untuk menghasilkan solusi berkualitas, inklusif, dan adaptif terhadap teknologi,” ungkap Dr. Juhji, M.Pd.
Dekan FTIK UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Subhan, M.Ed., dalam sambutannya menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak dengan tetap memperhatikan etika dan nilai-nilai kependidikan. Menurutnya, kemajuan kecerdasan buatan perlu diimbangi dengan penguatan integritas moral dan kearifan spiritual pendidik.
“ There is one thing technology can never replicate. Although AI is very speedy, we as Tarbiyah persons, as educators, have haqqul yaqin that technology can never replicate a heart, moral integrity, and spiritual wisdom. While AI can give us quick answers, Islamic education teaches our students which questions are truly worth asking in life. FTK does not resist technology, but directs it with a clear purpose and strong ethical values, ” tegas Prof. Dr. H. Subhan, M.Ed.
Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. H. Nana Jumhana, M.Ag., yang hadir mewakili Rektor sekaligus membuka acara secara resmi, menyampaikan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi atau perubahan dokumen ke format digital, tetapi juga harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Pemanfaatan AI harus berpegang pada prinsip human augmentation, not human replacement teknologi hadir untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran guru atau dosen. Selain itu, integrasi teknologi harus inklusif dan memegang prinsip leave no one behind sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Kami berharap forum ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan semata, tetapi berlanjut menjadi joint research, publikasi bersama, hingga kolaborasi kelembagaan internasional yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Dr. H. Nana Jumhana, M.Ag.
Melalui penyelenggaraan AICEL ke-5, FTIK UIN SMH Banten berharap dapat memperkuat kolaborasi akademik di tingkat internasional sekaligus mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan dan transformasi digital yang beretika, inklusif, serta berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan Islam.
The post FTIK UIN SMH Banten Gelar AICEL ke-5, Bahas Integrasi AI dan Transformasi Digital dalam Pendidikan Islam appeared first on Spirituality, Intellectuality, Professionality.

