SERANG — Dalam rangka meningkatkan kualitas akademik dan memperluas jejaring keilmuan, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) Universitas PTIQ Jakarta melaksanakan kegiatan Visiting Lecturer ke Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, 21 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kerja sama antar-institusi pendidikan tinggi Islam yang tergabung dalam skema Al-Jabbar yaitu kerja sama jaringan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Jakarta, Bandung, Banten dan Cirebon.
Rombongan delegasi dari FUPI Universitas PTIQ Jakarta dipimpin langsung oleh Dekan FUPI, Dr. Lukman Hakim, M.A. Turut hadir mendampingi beliau sejumlah dosen pakar yang dijadwalkan mengisi perkuliahan sebagai dosen tamu (visiting lecturer), di antaranya Dr. Khoirul Anwar, S.Ud., M.Ag., Ansor Bahary, M.A., Hidayatullah, M.A., dan Amien Nurhakiem, M.A.
Kedatangan rombongan disambut hangat di kampus UIN SMH Banten oleh Dekan FUDA UIN SMH Banten, Dr. Masykur, M.Hum. Penyambutan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, termasuk para Wakil Dekan, Ketua Program Studi (Kaprodi), Sekretaris Program Studi serta segenap dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan FUDA UIN SMH Banten.
Dalam sambutannya, Dekan FUPI Universitas PTIQ Jakarta, Dr. Lukman Hakim, M.A., menyampaikan bahwa agenda Visiting Lecturer ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan pilar Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
“Kunjungan akademik ini bukan sekadar silaturahmi kelembagaan, melainkan wujud nyata dari komitmen kita untuk saling berbagi kepakaran dan memperkaya diskursus keislaman. Kami berharap kehadiran para dosen kami dapat memberikan perspektif yang segar dan mendalam bagi para mahasiswa di FUDA UIN SMH Banten, sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi riset di masa mendatang,” ujar Dr. Lukman Hakim.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FUDA UIN SMH Banten, Dr. Masykur, M.Hum., mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif akademik dari Universitas PTIQ Jakarta. Menurutnya, pertukaran gagasan melalui program Visiting Lecturer sangat esensial di tengah dinamika studi Islam kontemporer.
“Kami sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas kehadiran Dekan FUPI PTIQ beserta jajaran dosen tamu. Program ini sangat bernilai bagi ekosistem akademik kami karena dapat membuka cakrawala berpikir mahasiswa agar lebih komprehensif. Kami berharap sinergi keilmuan ini tidak berhenti di ruang kelas hari ini, tetapi dapat berlanjut pada kerja sama penelitian, publikasi jurnal, dan pengabdian masyarakat,” tutur Dr. Masykur.
Diskusi Kolaborasi Dosen: Menakar Peluang dan Tantangan Kurikulum Ilmu al-Quran dan Tafsir
Sebelum pelaksanaan visiting lecturer di ruang-ruang kelas, kegiatan akademik ini lebih dulu diawali dengan forum diskusi kolaborasi antar-dosen dari kedua fakultas. Sesi pemantik diskusi ini menghadirkan narasumber dari FUDA UIN SMH Banten, yakni Dr. Agus Ali Dzawafi, M.Fil.I., yang memaparkan materi mendalam mengenai Tantangan dan Peluang Tafsir Isyari dan Dr. Lukman Hakim, M.A. yang berbicara seputar kurikulum Prodi IAT yang berbasis pada Outcome Based Education (OBE).
Dalam forum tersebut, Dr. Agus Ali Dzawafi mengupas dinamika pendekatan sufistik (esoteris) dalam penafsiran Al-Qur’an. “Tafsir Isyari memiliki kedalaman makna spiritual yang luar biasa untuk menyentuh dimensi batin umat. Namun di era modern, tantangan terbesarnya adalah menjaga batas-batas metodologis agar penafsiran tidak keluar dari koridor syariat,” paparnya.
Beliau juga menambahkan bahwa forum kolaborasi ini adalah wadah yang tepat untuk merespons tantangan tersebut. “Melalui sinergi akademik antara FUDA UIN Banten dan FUPI PTIQ, terbuka peluang besar untuk merumuskan kembali kerangka kajian Tafsir Isyari yang lebih terukur, dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, namun tetap tidak kehilangan ruh spiritualnya,” pungkas Dr. Agus Ali.
Ragam Tema Kajian dari Para Pakar dalam Visiting Lecturer
Kegiatan Visiting Lecturer ini diisi dengan pemaparan materi perkuliahan oleh masing-masing dosen tamu di berbagai kelas yang telah disiapkan. Para mahasiswa FUDA UIN SMH Banten tampak antusias mengikuti jalannya perkuliahan, yang diwarnai dengan diskusi interaktif mengenai berbagai isu terkini dalam kajian Ushuluddin, tafsir, dan pemikiran Islam. Visiting Lecturer ini diisi dengan pemaparan materi perkuliahan oleh masing-masing dosen tamu yang menyoroti berbagai dimensi keilmuan Al-Qur’an dan Tafsir.
Dr. Lukman Hakim, M.A., yang membawakan materi tentang Metode dan Pendekatan dalam Penafsiran, menekankan pentingnya penguasaan metodologi bagi para sarjana Ushuluddin. “Metode dan pendekatan yang tepat sangat krusial dalam menghindari penafsiran yang bias. Kita harus membekali mahasiswa dengan pisau analisis yang tajam agar mampu menggali makna Al-Qur’an secara metodologis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” tegas beliau di hadapan para mahasiswa.
Sementara itu, Ansor Bahary, M.A. menyoroti isu kemanusiaan melalui tema Tafsir Maudhui dalam Bingkai Qurani Humanistik. “Melalui pendekatan Tafsir Maudhui berbingkai humanistik ini, kita diajak untuk melihat bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an sangat memanusiakan manusia. Ini menjadi fondasi penting untuk menjawab tantangan krisis kemanusiaan saat ini dengan panduan wahyu,” ungkapnya.
Di kelas yang berbeda, kajian kebahasaan Al-Qur’an diperdalam oleh Hidayatullah, M.A. melalui tema Gharib al-Qur’an. Menurutnya, “Kajian Gharib al-Qur’an tidak sekadar mengupas kosakata yang dipandang asing atau sulit dipahami, melainkan mengantarkan kita pada kedalaman mukjizat bahasa Al-Qur’an yang luar biasa. Memahami aspek ini adalah kunci penting untuk menyelami samudra makna teks suci.”
Relevansi teks suci dengan dinamika zaman modern menjadi fokus paparan Dr. Khoirul Anwar, S.Ud., M.Ag. dalam materi Al-Qur’an dan Wacana Kontemporer. “Al-Qur’an bukanlah teks yang stagnan. Oleh karena itu, kita harus mampu mendialogkan pesan-pesan universal Al-Qur’an dengan wacana kontemporer, sehingga nilai dan relevansinya selalu hadir dan hidup di setiap zaman serta ruang sosial masyarakat,” papar Dr. Khoirul.
Menyempurnakan rangkaian perkuliahan, Amien Nurhakim membawakan materi mengenai Tafsir Maqashidi. “Tafsir Maqashidi membawa kita pada pemahaman filosofis tentang esensi dan tujuan utama diturunkannya syariat. Pendekatan ini sangat relevan untuk menghadirkan solusi-solusi Al-Qur’an yang aplikatif, berkeadilan, dan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan umat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, kedua fakultas berharap dapat terus membangun tradisi akademik yang unggul dan responsif terhadap tantangan zaman, serta mencetak generasi cendekiawan muslim yang berwawasan luas.










